Sukabumi ,– kamis 23 april 2026 Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Cikidang, Sukabumi, menuai sorotan. Hal ini menyusul banyaknya sisa makanan yang tidak dikonsumsi oleh para siswa.
Dalam sebuah video yang beredar, terlihat tumpukan nasi beserta lauk-pauk yang masih utuh terbuang di dalam ember dan kantong plastik sampah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, alasan utama para siswa tidak menghabiskan makanan tersebut adalah rasa bosan terhadap variasi menu yang disajikan berasal dari sppg cikidang kota untuk sdn 03 kec cikidang
Menu yang dianggap monoton membuat nafsu makan siswa menurun, sehingga banyak porsi makanan yang akhirnya berakhir di tempat sampah.
"Ini hasil sosialisasi kemarin Korsa di Polsek, dengan Korcam sppg dan muspika faktanya tidak dimakan ya," ujar Nanang Suherman yang biasa di sapa kang ilok tersebut sambil menunjukkan kondisi nasi dan lauk yang terbuang.
Nanang juga mengatakan beberapa catatan penting yang belom di patuhi oleh sppg berupa
IPAL ( ijin pengelolaan air limbah ) , sertifikat halai dari MUI dan Badan olah makanan , serta publikasi harga peraitem menu yang di sajikan wajib di aplod tidak hari ,
Dan sekolah wajib menolak apabila menu di anggap tidak sesuai dari pada di buang mending di kembalikan ke dapur biar dapur yang tidak memenuhi standar menu yang baik menerima kerugian dari pada di terima oleh sekolah namun di buang, bukan hanya makanan yang di buang tapi uang rakyat yang di buang begitu saja, di tengah devisit anggaran pemerintah hari ini , ko MBG ini tiap hari tidak ada perbaikan malas terus menciptakan pemborosan anggaran , program bagus namun di bawah pada cari kesempatan dalam kesempitan kelihatannya ujar nanang
Ia juga menambahkan bahwa siswa mungkin merasa bosan dengan menu yang ada dan lebih menyukai masakan rumah.
Dalam rekaman tersebut, terlihat menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, sayuran (tauge), lauk pauk berupa tempe dan telur, serta buah jeruk sebagai pelengkap.
Meskipun secara gizi sudah terpenuhi, aspek variasi dan cita rasa tampaknya menjadi kendala bagi para siswa.
Kondisi ini sangat disayangkan mengingat tujuan utama program ini adalah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.
Terbuangnya makanan dalam jumlah besar menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terkait pengelolaan dan variasi menu agar lebih menarik bagi selera siswa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait diharapkan dapat segera melakukan peninjauan terhadap penyedia SPPG di wilayah Cikidang untuk memastikan program ini berjalan efektif dan tepat sasaran tanpa adanya pemborosan pangan.
D Handriana
