-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peluncuran Pengiriman 500 Ribu Genteng di Plered, Langkah Strategis Pemberdayaan UMKM

Sabtu, 03 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-03T06:54:21Z

PURWAKARTA, - Program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar soal memilih bahan penutup atap yang lebih sehat. Di balik itu, tersemat arah kebijakan strategis: mengangkat kembali martabat usaha lokal, memberdayakan perajin rakyat, dan membangun kemandirian ekonomi dari bawah ke atas.

 

Selama ini, industri kecil dan perajin kerajinan tanah liat kerap terpinggirkan oleh dominasi produk pabrikan besar. Melalui Program Gentengisasi, pemerintah mengajak negara tidak lagi membiarkan mereka berjuang sendirian, melainkan membuka pintu pasar yang luas, sekaligus mendorong peningkatan kualitas agar mampu bersaing.


*Peluncuran di Plered, Purwakarta: Awal Langkah Nyata*

 

Jumat, 2 Oktober 2026, Kecamatan Plered, Purwakarta menjadi saksi langkah bersejarah. Sebanyak 500 ribu genteng hasil karya perajin lokal dikirim menggunakan 125 truk, menandai dimulainya pelaksanaan program Gentengisasi Nasional. Acara ini dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri PKP Maruarar Sirait, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, Anggota DPRD dan sejumlah pejabat lainnya.

 

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menegaskan program ini bukan sekadar urusan pasokan material. "Kita ingin memberdayakan UMKM, tapi kualitasnya di-upgrade dulu. Ada efek berantai yang diharapkan: UMKM tumbuh, kualitas meningkat, dan pasar terbuka lebar," kata Bang Ara.

 

Plered yang sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan genteng kini dihadapkan pada peluang sekaligus tantangan besar: kemampuan memproduksi dalam jumlah masif dengan standar kualitas yang ketat.

 

Dari proses persiapan yang berlangsung sekitar enam bulan, pemerintah menemukan hal penting: perajin lokal belum sepenuhnya memenuhi standar mutu. Banyak yang belum memiliki sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat bersama Pemkab Purwakarta dan Majalengka melakukan pendampingan dan pembinaan menyeluruh.


Sementara, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan pemerintah daerah telah melakukan pengecekan terhadap kesiapan produksi dan pengiriman genteng dari Purwakarta. Pembinaan terhadap perajin juga terus dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelaku usaha yang memenuhi standar.


Menurut Herman, pemerintah daerah selanjutnya mendorong terbentuknya ekosistem yang mempertemukan supply dan demand secara langsung, sehingga kebutuhan material program perumahan dapat terhubung dengan kapasitas produksi perajin lokal.


Penguatan sentra produksi juga dilakukan di Kabupaten Majalengka. Pemerintah menyiapkan pengiriman 2,4 juta genteng menggunakan 600 truk pada 8 November 2026 mendatang, dengan melibatkan 45 perajin. Sebanyak 34 perajin telah memiliki SNI, sedangkan 11 perajin lainnya dinyatakan lolos uji keandalan.


Besarnya kebutuhan material perumahan di Jawa Barat sekaligus membuka ruang bagi perajin lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas akses pasar. Pemerintah juga mendorong akses pembiayaan bagi UMKM perajin melalui BRI dan Bank Jabar untuk mendukung pengembangan kapasitas usaha.

 

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik produksi. Ini adalah ujian kemampuan perajin lokal untuk naik kelas. Pasar telah dibuka, namun keberlanjutan tidak bisa bergantung selamanya pada pesanan pemerintah. Perajin harus mampu menjaga kualitas, meningkatkan kapasitas, dan memantapkan posisi di pasar setelah program selesai.

 

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menambahkan, genteng ini akan digunakan untuk menggantikan atap asbes dalam program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, sehingga sekaligus menjaga kesehatan warga yang menerima manfaat.

 

Setiap genteng yang keluar dari tungku di Plered bukan sekadar barang yang dikirim ke lokasi pembangunan. Ia adalah bukti bahwa industri berbasis budaya dan kearifan lokal masih mampu berdiri tegak.


Sebelumnya, Kepala UPTD Sentra Keramik Plered, Mumun Maemunah, menyebutkan dari total 78 perajin yang ada di sentra tersebut, baru sebagian terlibat. Tiga di antaranya telah memiliki SNI, dan Dinas Koperasi dan UKM terus mendorong perajin lain segera melengkapi sertifikasi sesuai standar. Produk yang dikirim pun telah dinyatakan lulus uji Balai Besar Keramik.


Program Gentengisasi paling berharga jika tidak berhenti pada pemenuhan pesanan. Yang dikejar adalah perubahan struktur: dari sekadar pemasok, menjadi pelaku usaha yang mandiri, berstandar, dan mampu bersaing. Ketika perajin naik kelas, maka ekonomi rakyat pun naik kelas. Itulah sesungguhnya makna membangun dari bawah.

(Muhammad Hamzah)

×
Berita Terbaru Update