-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sikapi Konflik Pendirian Gereja di Cikopo, Pemuda dan Tokoh Purwakarta Serukan Kedewasaan Beragama

Senin, 12 Oktober 2026 | Oktober 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-12T13:17:08Z

JPURWAKARTA, – Pusaran konflik keagamaan yang dipicu rencana pendirian rumah ibadah di wilayah Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat, menarik perhatian berbagai kalangan. Tak hanya menjadi ranah pihak berwenang, polemik ini juga memantik atensi aktif dari generasi muda dan pemerhati sosial di Purwakarta.


Vera Novia, seorang figur publik muda yang dikenal sarat prestasi, turut hadir mendampingi Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, yang diutus oleh Kemenag RI untuk memediasi permasalahan tersebut di lokasi kejadian.


Dalam keterangannya, Vera menekankan pentingnya kedewasaan dalam bersikap terhadap perbedaan. Mahasiswi semester 7 jurusan Ilmu Hukum Universitas Kartamulia ini meyakini bahwa toleransi harus melampaui sekadar retorika.


“Bukan hanya sekadar tahu bahwa kita berbeda, tetapi juga benar-benar memahami bahwa setiap orang punya hak untuk menjalankan keyakinannya. Saling menghormati tidak akan mengurangi apa pun dari keyakinan yang kita miliki,” ujar Mojang Purwakarta 2024 yang juga peraih predikat Duta Pariwisata Jawa Barat 2026 ini.


Ia mendukung langkah mediasi yang ditempuh oleh Kementerian Agama dan mengedepankan pendekatan dialogis dalam menyelesaikan persoalan pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) tersebut.


“Setiap persoalan perlu disikapi dengan kepala dingin, mengedepankan dialog, serta tetap berpegang pada aturan yang berlaku. Kita mungkin tidak memiliki keyakinan yang sama, tetapi memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kerukunan,” tegasnya.


Apresiasi Terhadap Partisipasi Pemuda


Keterlibatan anak muda dalam merespons dinamika sosial ini mendapat apresiasi dari Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara. Menurutnya, aksi para pemuda ini adalah bentuk praktik langsung dari nilai-nilai Pancasila yang selama ini diajarkan di dunia pendidikan.


“Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa pemuda kita tidak ‘gagap’ namun ‘tanggap’ terhadap problematika yang terjadi. Ini menunjukkan kematangan generasi muda dalam mengamati persoalan kemasyarakatan secara holistik dan komprehensif,” tutur Aa Komara.


Lebih lanjut, tokoh yang dikenal sebagai perekat solidaritas lintas elemen masyarakat di Purwakarta ini mengungkapkan keprihatinannya atas potensi disharmoni yang kerap terjadi di tengah bangsa yang besar.


Aa Komara mengajak seluruh pihak, baik mayoritas maupun minoritas, untuk saling memanusiakan tanpa harus dibayangi ketakutan akan pergeseran iman. Ia juga mendorong agar para elit di negeri ini tidak bersikap abu-abu, melainkan memberikan teladan nyata sebagai konsekuensi negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.


“Bangsa ini akan semakin tertinggal jika terus terjebak dalam kekisruhan ideologi atau teologi. Harapan saya, seluruh pihak mampu bersepakat dan kembali pada asas Pancasila sebagai suaka keberagaman agar tidak ada kebingungan bagi generasi muda dalam memaknai hidup di negeri yang heterogen ini,” pungkasnya

Muhammad Hamzah 

×
Berita Terbaru Update