-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tokoh Budaya dan Buruh Nasional Abah Ujang Guru Soroti Diplomasi Pertahanan Berbasis Budaya untuk Stabilitas Kawasan

Minggu, 11 Oktober 2026 | Oktober 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-11T02:11:36Z

 


SUKABUMI, – Tokoh Budaya dan Spiritual yang juga menjabat sebagai Ketua Umum FSP Maritim Indonesia, Ujang Supriatin, yang akrab disapa Abah Ujang Guru, menekankan pentingnya pemanfaatan warisan budaya dan kearifan lokal sebagai instrumen diplomasi pertahanan di tingkat regional, khususnya di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik.


Menurut Abah Ujang, di tengah potensi konflik geopolitik yang tinggi, diplomasi berbasis budaya adalah bentuk penerapan soft power yang sangat efektif. Ia berpendapat bahwa pendekatan ini mampu meredakan ketegangan tanpa harus selalu mengandalkan kekuatan militer (hard power).


“Hubungan antar-negara sering kali diwarnai oleh keanekaragaman latar belakang budaya. Dengan diplomasi pertahanan berbasis budaya, negara dapat membangun confidence-building measures (langkah-langkah membangun kepercayaan) dan memperkuat stabilitas kawasan,” ujar Abah Ujang dalam keterangannya, Sabtu (11/10/2026).


Kerangka Strategis Diplomasi Budaya


Dalam kerangka strategis yang disusunnya, Abah Ujang memaparkan beberapa poin utama, di antaranya:


Penyelarasan Nilai dan Falsafah: Mengintegrasikan falsafah lokal tentang perdamaian ke dalam doktrin diplomasi, serta menanamkan Military Cultural Awareness dalam pendidikan militer untuk meminimalisir salah paham antar-aparat di lapangan.

Strategi Operasional: Meliputi pertukaran budaya, gastrodiplomasi, hingga penanganan konflik perbatasan berbasis kekerabatan (cross-border kinship) dan melibatkan pemangku adat dalam sistem peringatan dini pertahanan negara.

Kemanusiaan dan Mitigasi Bencana: Mengarusutamakan kearifan lokal dalam sistem mitigasi bencana regional (HADR), seperti penggunaan konsep lokal untuk kebencanaan.

Budaya dan Maritim sebagai Jati Diri Bangsa


Sebagai sosok yang puluhan tahun berkiprah di dunia seni bela diri dan spiritual, serta pengurus DPP Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI) yang tersebar di 17 provinsi, Abah Ujang menegaskan bahwa Pencak Silat sebagai warisan dunia UNESCO memiliki peran strategis bagi pertahanan negara.


Ia juga menyoroti kaitan erat antara budaya dengan kemaritiman. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, laut bukan sekadar ruang fisik, melainkan pandangan hidup dan jati diri.


“Budaya dan maritim adalah dua hal yang tak terpisahkan. Laut menyediakan tantangan alam, sementara manusia meresponsnya melalui cipta, rasa, dan karsa hingga melahirkan kearifan bahari,” jelasnya.


Abah Ujang menambahkan, integrasi antara budaya dan maritim menjadi kunci untuk membangun maritime awareness serta menjaga kedaulatan negara. Namun, ia mengingatkan adanya tantangan, yakni perlunya sinergi antar-lembaga negara serta risiko komersialisasi budaya yang harus dimitigasi.


Di akhir penjelasannya, ia menegaskan bahwa memperkuat jati diri sebagai bangsa maritim melalui kearifan lokal adalah modal utama bagi Indonesia dalam memainkan peran sebagai aktor perdamaian di panggung regional dan internasional.


(Red)

×
Berita Terbaru Update